Beginilah Wanita –> Sebelum Islam Datang

Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang Allah ciptakan. Namun mereka tidak serta merta langsung diturunkan ke bumi melainkan diberi kenikmatan hidup di syurga oleh Allah SWT. Karena hasutan Iblis, Nabi Adam dan Hawa melanggar larangan Allah dengan memakan buah terlarang mereka diturunkan ke bumi. Nabi Adam memohon ampunan kepada Allah dan Allah mengampuni mereka namun mereka tidak dapat kembali ke syurga melainkan tetap tinggal di bumi. Dari Nabi Adam dan Hawa serta seiring dengan berjalannya waktu semakin banyaklah keturunan Nabi Adam dan Hawa yang kita kenal saat ini dengan manusia.
Wanita dari dahulu sudah terkenal akan keindahan bahkan Baginda Rasulullah bersabda:
”Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang sholehah.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad).
Namun apakah wanita sejak dahulu dianggap perhiasan oleh orang-orang sebelum Islam datang?

1.Bangsa Yunani
Bangsa Yunani terkenal memiliki peradaban dan kebudayaan yang maju pada masanya. Sayangnya, sejumlah fakta mengungkap bahwa perempuan pada sistem kemasyarakatan bangsa Yunani tidak memiliki tempat yang layak. Bahkan kaum lelaki saat itu mempercayai bahwa perempuan merupakan sumber penyakit dan bencana. Sehingga mereka memposisikan perempuan sebagai makhluk yang rendah. Ini bisa dilihat ketika para lelaki menerima tamu, para perempuan saat itu hanya dijadikan pelayan dan budak semata. Bahkan, perempuan tidak boleh disejajarkan dalam satu meja makan dengan kaum pria.
Beberapa perubahan yang terjadi seiring perjalanan waktu, tak banyak memberikan keuntungan bagi perempuan. Nafsu syahwat dijadikan dasar diberikannya kebebasan bagi kaum perempuan atau dengan kata lain kebebasan yang diberikan hanya sebatas kebebasan seksual semata. Maka tak heran bila pada zaman itu banyak perempuan yang menjadi pelacur.
Perempuan pezina saat itu justru dianggap memiliki kedudukan yang tinggi. Para pemimpin Yunani berlomba-lomba untuk mendapatkan dan mendekati mereka. Perempuan saat itu, dipandang hanya sebagai komoditas yang bisa dikuasai oleh siapapun. Lelaki boleh memiliki dan menguasai perempuan tanpa melalui ikatan pernikahan yang suci.
Kerendahan sikap masyarakat Yunani hingga merekayasa cerita yang bernuansa seksual. Salah satu kisah yang berkembang adalah cerita tentang Dewa Asmara Cupid yang merupakan hasil hubungan gelap Dewi Aphrodite dengan salah seorang manusia. Padahal, sang dewi merupakan istri dari salah satu dewa. Dari cerita seperti inilah, masyarakat Yunani tidak lagi peduli dan mengindahkan norma pernikahan.

2.Hindhu dan China
Begitu pula Hindu dan China, mereka memperlakukan wanita dengan sadis dan memperihatinkan. Seorang istri harus rela di bakar-hidup hidup, sebagai bukti kesetiaan terhadap sang suami. Ternyata, ini masih di praktekan oleh sebagian rakyat India sampai saat ini.

3.Bangsa Arab Jahiliyah
Kedudukan wanita di jaman jahiliah Kehidupan wanita di jaman jahilian yaitu di arab dan di dunia secara umum, adalah di dalam kehinaan dan kerendahan. Khususnya di bumi arab , para wanita dibenci kelahiran dan kehadirannya di dunia. Sehingga kelahiran bagi mereka, adalah awal dari kematian mereka. Para bayi wanita yang dilahirkan di masa itu segera di kubur hidup-hidup di bawah tanah. Kalaupun para wanita dibiarkan untuk terus hidup, mereka akan hidup dalam kehinaan dan tanpa kemuliaan. Ini firman Allah
“Ketika bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh” (QS At Takwir : 8-9)
Wanita yang sempat hidup dewasa mereka dilecehkan dan tidak memperoleh bagian dalam harta warisan. Mereka dijadikan sebagai alat pemuas nafsu para lelaki belaka. Yang ketika telah puas direguk, segera dibuang tak ada harga dan nilai. Di masa itu pula, para lelaki berhak menikahi banyak wanita tanpa batas, tidak mempedulikan akan keadilan dalam pernikahan.

4.Bangsa Romawi
Kaum lelaki pada masa itu, memiliki hak mutlak terhadap keluarganya. Ia bebas melakukan apa saja terhadap istrinya, bahkan diperbolehkan membunuh istri mereka dalam keadaan tertentu. Meski peradaban Romawi mengalami perkembangan, namun tetap saja perempuan berada dalam posisi yang hina; sebagai pemuas nafsu lelaki saja. Meski perempuan mendapatkan kebebasan, bentuknya hanya sebatas bebas menikah dengan lelaki mana saja. Tak pelak bila perceraian pada masa itu jumlahnya sangat besar, ditemukan dalam banyak kasus penyebabnya sangat sepele.
Sebuah fakta terungkap oleh Kardinal Gerum bahwa ada seorang perempuan yang tanpa merasa berdosa dan malu telah menikah untuk ke-23 kalinya. Di saat yang sama, ia menjadi istri ke-21 dari suaminya yang terakhir.
Bentuk yang saat itu menjadi trend adalah pementasan teater dengan menampilkan perempuan telanjang sebagai obyek cerita. Selain itu, masyarakat itu juga memiliki tradisi mandi bersama, antara para lelaki dan perempuan di muka umum. Tentu saja, kedua kebiasaan itu mendudukkan posisi perempuan tidak pada tempat yang terhormat.

5.Peradaban Persia
Persia merupakan koloni yang menetapkan hukum dan sistem sosial bagi wilayah jajahannya. Sayangnya, hukum yang mereka terapkan, tak memberikan keadilan bagi perempuan. Bila ada perempuan yang melakukan kesalahan –meskipun kecil- akan dihukum dengan berat. Bahkan bila ia mengulangi kesalahannya, tak segan hukuman mati akan dijatuhkan.
Di negeri itu, seorang perempuan dilarang menikah dengan lelaki yang bukan penganut ajaran Zoroaster (agama kuno di Persia) sedangkan lelaki bebas bertindak sesuai dengan kehendaknya. Kehidupan perempuan menjadi terbelenggu. Tidak itu saja. Bila dalam keadaan haidh, maka mereka akan diisolasi ke tempat yang jauh di luar kota dan tak satu pun yang boleh bergaul dengan mereka, selain pelayan yang meletakkan makanan atau minuman untuknya.

6.Peradaban India
Meski dikenal dengan ilmu pengetahuan dan kebudayaannya, peradaban India menempatkan kaum perempuan pada derajat kehinaan. Pada umumnya, masyarakat India mempercayai bahwa perempuan merupakan sumber dosa, kerusakan akhlak dan pangkal kehancuran jiwa. Sehingga mereka tak memiliki hak-hak kebendaan dan warisan. Bahkan hak hidup mereka juga dicabut ketika suami mereka meninggal. Setiap perempuan harus dibakar hidup-hidup bersama mayat suaminya.

7.Umat Kristen
Tak berbeda dengan peradaban lainnya. Pada zaman ini, syariat Nasrani telah diselewengkan sehingga mendudukkan perempuan dalam kerendahan dan tak sesuai dengan fitrahnya. Penyimpangan ini juga diafirmasi dengan pandangan bahwa perempuan merupakan sumber dosa dan kemaksiatan yang menyebabkan lelaki terjerumus dalam kedurhakaan. Menurut salah seorang pemimpin Kristen, Paus Tertulianus mengatakan, “Wanita adalah pintu masuknya setan ke dalam jiwa manusia. Dialah (Hawa) yang telah mendorong seorang (Adam) mendekati pohon larangan, perusak aturan Allah dan membuat buruk citra lelaki.”
Para pendeta juga berpendapat bahwa hubungan seksual merupakan perbuatan kotor yang harus dihindari meski dengan cara yang halal melalui pernikahan. Dalam pandangan itu, hidup membujang merupakan puncak ketinggian akhlak seseorang sehingga banyak pendeta yang memilih jalan ini agar akhlak mereka tetap terpelihara. Ironinya, sejumlah fakta justru terkuak di kalangan gereja dengan mencuatnya kasus perzinahan, sodomi dan aborsi yang dilakukan para pendeta dan biarawati.

8.Umat Yahudi
Pada bangsa Yahudi, perempuan selayaknya komoditas yang bisa diperjual-belikan di pasar. Sehingga, posisi kaum perempuan saat itu hanya sebatas pemuas nafsu kaum lelaki saja. Tak heran bila saat itu, merebak praktik pelacuran di tengah masyarakat. Lebih sesat lagi, masyarakat Yahudi kerap membalut praktik pelacuran dengan topeng ibadah. Mereka melakukan perzinahan di rumah ibadah dengan dalih untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dengan dalih seperti itu, para pendeta Yahudi melakukan perzinahan untuk menghapus dosa mereka. Ini juga dilegalkan melalui kitab suci mereka yang telah diubah, bahwa Allah mengharamkan atas orang Yahudi berbuat zina dengan perempuan yang masih kerabatnya, namun diperbolehkan dengan perempuan di luar kerabatnya.

Jadi begitulah keadaan perempuan sebelum Islam datang, hanya Islamlah yang meninggikan derajat wanita. Wanita itu adalah tiang negara maka jika ingin memajukan negara maka tinggikanlah wanita tetapi jika ingin menghancurkan negara maka hinakanlah wanita. Mengapa suatu negara bisa hancur hanya gara-gara menghinakan wanita? Sekolah pertama yang diterima anak adalah dari ibu maka jika akhlak ibu itu mulia maka akan menghasilkan anak-anak penerus negara yang mulia akhlaknya juga. Sebaliknya, ketika akhlak ibunya buruk maka akan menghasilkan anak-anak yang berakhlak buruk pula.
Realita sekarang (akhir zaman) banyak hal yang terjadi sebelum Islam datang sama dengan ketika Islam telah datang. Dimana perzinaan ada dimana-mana, perempuan yang diperkosa, dibunuh, dan banyak pula terjadi kasus sodomi dan aborsi.

2 comments

  1. Wanita dari dahulu sudah terkenal akan keindahan bahkan Baginda Rasulullah bersabda:
    ”Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang sholehah.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad).
    Tapi apakah realisasinya wanita dianggap demikian dikehidupan nyata??
    contohlah masih banyak haji/tokoh negara yang tidak hanya korupsi, tapi main perempuan.

  2. wallahu a’lam..
    wanita itu indah, dan Alloh mengistimewakannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: