Puasa-Puasa yang Dimakruhkan

Makruh –> كره yang dibenci

1. Puasa hari ‘Arofah bagi orang yang melaksanakan wukuf karena adanya larangan Rasulullah SAW untuk berpuasa pada hari ‘Arofah bagi orang yang berada di ‘Arofah.

Dari Ummu Al Fadhl, bahwa mereka ragu tentang berpuasanya Nabi Shalllallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari ‘Arafah, lalu dikirimkan kepadanya segelas susu, lalu dia meminumnya. (HR. Bukhari No. 5636)

Ibnu Umar ditanya tentang berpuasa pada hari ‘Arafah, beliau menjawab: “Saya haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau tidak berpuasa, saya haji bersama Abu Bakar, juga tidak berpuasa, saya haji bersama Umar, juga tidak berpuasa, saya haji bersama ‘Utsman dia juga tidak berpuasa, dan saya tidak berpuasa juga, saya tidak memerintahkan dan tidak melarangnya.” (Sunan Ad Darimi No. 1765. Syaikh Husein Salim Asad berkata: isnaduhu shahih.)

2. Puasa Hari Jumat secara khusus
Sesuai sabda Rasulullah SAW:

Sesungguhnya hari Jumat itu adalah hari raya bagi kamu sekalian, maka janganlah kamu berpuasa pada hari itu kecuali disertai dengan(puasa) sebelumnya atau sesudahnya.(Diriwayatkan oleh Al-BAzzar dan sanadnya baik(jayyid). Hadits ini berasal darik kitab Shohihaini Al-Bukhori No 1985; Muslim No 1144)

3. Puasa hari Sabtu secara khusus
Berdasar sabda RAulullah SAW:

Janganlah kamu sekalian berpuasa pada hari Sabtu, kecuali puasa yang diwajibkan atas kamu sekalian. Jika seseorang di antara kamu tidak mendapatkan apapun selain kulit anggur atau batang pohon, maka hendaklah ia mengunyahnya.(Diriwayakan oleh Ashhab as-Sunan; Au dawud No 2421; Ibnu Majah No 1726 dan At-Tirmidzi No 744 dan beliau menghasankannya)


4. Puasa pada akhir Sya’ban

Sabda Rasulullah SAW:

Jika bulan Sya’ban telah mencapai pertengahannya, maka janganlah kamu berpuasa.(Diriwayatkan oleh Abu Dawud No 2337; At-Tirmidzi No 738; Ibnu Majah No 1651 dan Ibnu Hibban menshahihkannya)

*keterangan: Hukum makruh menjalankan puasa pada hari-hari yang disebutkan di atas adalah makruh tanzih(belum mencapai derajat haram). Sedangkan makruhnya puasa pada hari-hari yang akan disebutkan selanjutnya adalah makruh tahrim(mendekati haram)*

5. Puasa Wishal
Puasa selama dua hari atau lebih tanpa berbuka sama sekali. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

Janganlah kamu melakukan (puasa) wishal….. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhori No 1961)

Jauhilah puasa wishal.(Muttafaun ‘alaih; al-Bukhori No 1966; Muslim No 1103)

6. Puasa pada hari yang meragukan (yaum asy-syak)
Pada tanggal 30 Sya’ban, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

Barangsiapa puasa pada hari yang meragukan maka ia telah bermaksiat kepada Alu al-Qasim.(Diriwayatkan oleh Al-Bukhori yang diriwayatkan secara mu’allaq. Kitab As-shiyam bab ke-11)

7. Puasa ad-Dahr (sepanjang tahun)
Puasa selama satu tahun tanpa berbuka, berdasar sabda Rasulullah SAW:

Tidak ada puasa bagi orang yang berpuasa sepanjang tahun.(Diriwayatkan oleh Muslim No 1159)

Barangsiapa yang berpuasa sepanjang tahun, maka ia tidak berbuka dan tidak pula berbuka.(Diriwayatkatkan oleh Ahmad No 22031; An-Nasa’i No 2374 dan ia menshahihkannya)

8. Puasa seorang istri tanpa izin suaminyapada saat suaminya berada di sisinya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

Seorang istri tidak boleh berpuasa walaupun satu hari sedangkan suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya. Waki’ berkata,”kecuali puasa Ramadhan.”(Muttafaqun ;alaihi; Al-Bukhori No 5192; Muslim No 1026. Lafadz ini riwayat Ahmad No 9812)

Sumber: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri. Minhajul Muslim. Ensiklopedia Muslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 907 other followers

%d bloggers like this: